Pancasila Sebagai Perekat Anak Bangsa

  • Whatsapp
Pancasila Sebagai Perekat Anak Bangsa

DR. H. Abdul Wahid, M.A
(Muballigh dan Akademisi Makassar)

RAKYAT.NEWS, OPINI – Keberadan pancasila di Indonesia bukanlah kado ulang tahun yang diberikan oleh Belanda kepada kita, juga bukan pemberian gratis dari bangsa luar, akan tapi hasil diskusi dan dialog yang intens diantara tokoh bangsa baik dari kalangan nasionalis maupun agamis. Tak heran nilai yang terkandung di dalam lima sila pancasila tersebut adalah untuk mengakomodir nilai-nilai nasionalis dan agamis di Indonesia.

Dengan kata lain keberadaan pancasila di Indonesia sudah sangat relevan dengan semua agama, sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa agama adalah lawan atau ancaman dari pancasila. Pesan moral dari pancasila juga sudah mampu mengakomodir semua budaya, suku, ras dan golongan yang ada dalam bangsa ini, diikat dengan sebuah slogan “bhineka tunggal ika”.

Dalam pancasila tersirat bahwa Indonesia bukan negara agama, akan tetapi sebuah negara yang dalam praktik penyelenggaraannya harus menjadikan spirit agama sebagai ladasan moral, yang mengedepankan kejujuran dan integritas dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah keniscayaan adanya.

Namun demikian, dalam realitasnya Indonesia sebagai salah satu negara yang menganut sistem demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah India dan Amerika, tak jarang masih sering dinodai dengan hal-hal yang menjurus pada pertengkaran dan perpecahan di tengah masyarakat. Begitu banyak peristiwa yang membuat kita sebagai bangsa miris menyaksikannya terutama ketika selesai perhelatan pilkada diberbagai wilayah di Indonesia yang hampir dinodai dengan kerusuhan dan lain sebagainya. Hal ini terjadi disebabkan karena ada sebagian oknum yang demi meraih tendensi pribadi dan kelompoknya sehingga menghalalkan segala cara. Di sisi lain karena masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap substansi demokrasi pancasila.

Bukankah demokrasi yang berlaku di Indonesia adalah demokrasi pancasila. Dalam arti bahwa muatan dan proses demokrasi tersebut harus diinspirasi dari pesan-pesan moral yang terkandung dalam setiap sila pancasila tersebut.

Pancasila adalah merupakan lem perekat keragaman anak bangsa, baik dari aspek agama, suku, budaya, etnik dan lain sebagainya. Karena itu sudah menjadi kewajiban bagi kita semua sebagai anak bangsa agar dapat merawat kebinekaan demi terwujudnya pesta demokrasi yang aman dan damai serta menuju Indonesia yang maju sebagaimana negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura dan Malaysia.

Kehadiran pancasila sebagai falsafah dalam bernegara sejatinya tidak hanya sebatas slogan dan bahan diskusi saja di warung kopi dan tempat-tempat seminar lainnya, akan tetapi lebih dari itu harus menjadi patron dalam berbangsa dan bernegara dalam kehidupan nyata. Terlebih pancasila hingga kini masih diyakini adalah satu-satunya ideologi negara yang dapat merangkul semua golongan dan agama yang ada di Indonesia.

Islam sendiri sebagai agama yang paling banyak dianut oleh masyarakat Indonesia, pada dasarnya telah menerima pancasila sebagai falsafah dalam bernegara dengan alasan karena nilai yang terkandung dalam pancasila sudah relevan dengan substansi ajaran Islam. Hal ini misalnya dapat dilihat dari setiap sila yakni:

Pertama: Sila ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam ajaran Islam sila ini mengandung prinsip ketauhidan yang berarti bahwa tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Allah. Wujud pengamalan dari nilai ketauhidan ini kemudian, seorang Muslim akan berusaha untuk menjauhkan dirinya dari hal-hal buruk dan dosa seperti praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan sebagainya. Hal ini dilakukan karena didasari keyakinan bahwa setiap yang ia lakukan di dunia ini senantiasa diawasi oleh Allah SWT. dan suatu saat akan diminta pertanggungjawaban darinya (QS. Al-Baqarah: 235).

Kedua: Sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila ini mengandung makna agar setiap muslim mampu mengedepankan penghormatan kepada sesama, baik yang seagama maupun yang berbeda agama dengannya. Sebab naluri setiap manusia pasti ingin dihargai oleh orang lain. Dalam konteks inilah, maka wajarlah jika Islam yang ajarannya membawa misi rahmatan lil’alamin (QS. Al-Anbiya’: 107).

Ketiga: Sila persatuan Indonesia. Mengisyaratkan semua anak bangsa agar mampu menebarkan prinsip persaudaraan bukan permusuhan. Kesadaran akan kita sebagai sesama anak bangsa bersaudara dan sesama muslim bersaudara, akan dapat meminimalisir terjadinya gangguan kamtibmas di level bawah.

Untuk itulah, sudah sejatinya demokrasi harus didukung oleh prinsip persaudaraan bukan kebencian. Karenanya jangan mengatasnamakan demokrasi, lalu membuat kita saling bertikai satu sama lain yang pada akhirnya yang rugi adalah kita semua sebagai sesama anak bangsa. Allah swt. mengingatkan “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat:10).

Keempat: Sila ini mengajarkan kepada kita sebagai bangsa bahwa jadikan musyarawah sebagai sarana untuk mempertemukan ide dan gagasan untuk mencapai mufakat, sebab sebagaimana kita ketahui dalam dunia demokrasi akan terjadi kompetisi antar satu pasangan calon dengan pasangan lainnya. Untuk itu sudah seharusnya kita kedepankan sikap sportivitas, disetiap pehelatan pesta demokrasi di Indonesia khususnya menghadapi pilkada serentak tahun 2020 di Sulsel. (QS. Ali Imran: 159).

Kelima: Sila kelima adalah mengingatkan kita sebagai sebuah bangsa, bahwa tujuan bernegara adalah untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hingga saat ini, kita masih belum sampai ke level ini, dimana masyarakat kita masih belum mendapatkan keadilan dalam bidang kesehatan, ekonomi, sulitnya mendapatkan pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Untuk itu tujuan yang luhur dan besar ini, tidak mungkin hanya diserahkan kepada pemerintah atau segelintir dari anak bangsa ini, akan tetapi tugas kita semua sesuai kapasitas dan tupoksi kita masing-masing.

Dan yang perlu diingat, tujuan ini mustahil dapat dicapai manakala kondisi keamanan dalam negara kita tidak kondusif, untuk itu menjaga keamanan bukan hanya semata-mata diserahkan kepada TNI dan Polri saja, akan tetapi tugas kita semua sebagai anak bangsa. Kata orang bijak, pekerjaan yang berat akan jadi ringan jika kita bersama-sama mengerjakannya. Dan tiada kesuksesan tanpa kebersamaan. (*)

Pos terkait