Pendidik Cerdas, Pembelajaran Daring Tuntas

  • Bagikan
1210 Mamasa Square

MAMASA – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” kali ini diadakan di Mamasa, Sulawesi Barat dengan pembahasan tema “Menjadi Pendidik yang Cerdas dan Cakap Digital” (12/10). Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Program kali ini menghadirkan 711 peserta empat narasumber yang terdiri dari praktisi pendidikan, Ahmad Yazid; narablog dan Womenpreneur, Stephanie Hertanto; Duta Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar Sri Wahyuni; serta Astamedia Blogging School, Irma Suryani. Adapun sebagai moderator adalah Nina Izwan. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan 57.550 orang peserta.

Acara dimulai dengan video sambutan dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Selanjutnya, A. Yazid tampil sebagai pemateri pembuka yang membawakan materi kecakapan digital bertema “Kemampuan Literasi Digital yang Wajib Dimiliki Guru Generasi Alpha”. Menurut Yazid, pandemi telah mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM). Salah satu kebijakan penyesuaian pelaksanaan KBM adalah pembelajaran daring. “Agar pembelajaran daring berjalan lancar, pendidik harus menguasai teknologi digital sebagai sarana pendidikan jarak jauh dan memahami karakteristik murid era kini sebagai generasi alfa yang lahir dan hidup di era digital,” katanya.

Berikutnya, Stephanie menyampaikan materi etika digital berjudul “Literasi Digital untuk Orang Tua: Internet yang Cocok dan Aman untuk Anak di Bawah Umur dan Remaja”. Ia mengatakan, selain memudahkan akses informasi, perkembangan internet juga membawa dampak negatif bagi anak dan remaja. Untuk mengatasinya, orangtua bisa memanfaatkan fitur kontrol internet agar aman bagi anak seperti YouTube Kids maupun Google Family Link. “Perbarui keterampilan digital, atur penggunaan internet, dan lakukan aktivitas bersama tanpa internet secara rutin untuk menghindari ketergantungan anak terhadap dunia maya,” paparnya.

Pemateri ketiga, Sri Wahyuni, membawakan tema budaya digital tentang “Peran Komunitas Akademik dalam Pendidikan di Era Digital”. Menurut dia, komunitas akademik harus berpandangan optimis pada anak/siswa, mengikuti perkumpulan sesuai kompetensi di berbagai platform, dan mengundang narasumber yang bisa memotivasi dan menambah wawasan siswa. Selain itu, kreativitas melakukan pembelajaran daring secara menarik dan membuat laman atau blog penyedia sumber belajar gratis juga tak kalah penting untuk dilakukan.

Adapun Irma, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema keamanan digital mengenai “Rekam Jejak Digital di Ranah Pendidikan”. Ia mengatakan, pengajar bisa menerapkan strategi manajemen waktu, perundungan dan pengelolaan keamanan siber, privasi, berpikir kritis, serta empati digital agar peserta didik aman di dunia maya. “Selain guru, orangtua juga berperan penting membimbing anak agar bijak berinternet karena aktivitas di dunia maya meninggalkan jejak digital permanen yang bisa berdampak di kemudian hari,” pungkasnya.

Selanjutnya, moderator membuka sesi tanya jawab yang disambut meriah oleh para peserta. Selain bisa bertanya langsung kepada para narasumber, peserta juga berkesempatan memperoleh uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah satu pertanyaan menarik dari peserta adalah tentang bagaimana meningkatkan literasi digital bagi para guru yang memiliki keterbatasan akses terhadap peralatan teknologi digital. Narasumber menjelaskan bahwa pengelola sekolah bisa memfasilitasi kendala teknis semacam ini. Kemampuan literasi digital terkait keterampilan literasi secara umum lewat buku dan media lain juga tetap bisa dilakukan tanpa tergantung dengan gawai.

  • Bagikan

Makassar Recover

Makassar Recover