Ramah Berdakwah Jaga Keharmonisan Masyarakat

  • Bagikan
1310 PARE PARE

PAREPARE – Sebanyak 725 peserta mendaftarkan dirinya untuk mengikuti Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi, yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo, dilaksanakan secara virtual pada 13 Oktober 2021 di Parepare, Sulawesi Selatan. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema kali ini adalah “Dakwah Ramah Perkuat Semangat Kebangsaan”.

Program kali ini menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari kreator konten & spesialis media sosial, Hendri Aditya; dosen UIN Yogyakarta & Japelidi, Yanti Dwi Astuti; Pimpinan Lembaga Seni Budaya Batara Gowa, Andi Muhammad Redo; serta pegiat internet sehat, Saul R. Tindangen. Adapun sebagai moderator adalah Arie Mega. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta 57.550 orang.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Selanjutnya, sesi pemaparan materi dibuka oleh narasumber pertama, yaitu Aditya yang membawakan materi etika digital dengan tema “Bijak di Kolom Komentar”. Menurut dia, bijak berkomentar diperlukan untuk menghindari ujaran kebencian, body shaming, sentimen SARA, bias gender, maupun perundungan di dunia maya. Sebelum berkomentar, pahami konten secara menyeluruh, gunakan bahasa santun, dan tak merendahkan pihak lain. “Mengabaikan etika digital bisa membuat rekam jejak kita buruk, bahkan beresiko terjerat UU ITE dengan sanksi berat,” pesannya.

Berikutnya, Yanti menyampaikan materi kecakapan digital berjudul “Dakwah yang Ramah Perkuat Wawasan Kebangsaan”. Ia mengatakan, dakwah tak ramah bisa dikenali dari gaya penyampaian ajaran agama yang kasar, mempersulit praktik keagamaan, penuh klaim kebenaran, dan mudah menyalahkan pihak lain. “Dalam berdakwah, semestinya kita menghormati keberagaman, menghargai berbagai pandangan, serta menjaga keutuhan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Sebagai pemateri ketiga, Andi M. Redo membawakan tema budaya digital tentang “Meningkatkan Wawasan Kebangsaan Melalui Literasi Digital”. Menurut dia, kita memiliki budaya yang beragam dan luhur, tercermin dalam kesantunan, toleransi serta keramahan tata krama masyarakat. Wawasan kebangsaan yang mulia ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan lewat literasi digital untuk memperbaiki rendahnya tingkat kesopanan warganet kita di dunia maya saat ini.

Adapun Saul, sebagai pemateri terakhir, menyampaikan tema keamanan digital mengenai “Internet Sehat”. Ia mengatakan, penggunaan internet secara sehat penting untuk menghindarkan gangguan perkembangan mental dan psikis, terutama pada anak. Penyalahgunaan internet juga berkonsekuensi hukum karena sudah berlaku UU ITE yang mengatur tata kehidupan digital. “Biasakan anak berinternet secara sehat sejak dini agar terbentuk karakter positif dalam memanfaatkan teknologi digital,” ungkapnya.

Selanjutnya, moderator membuka sesi tanya jawab yang disambut meriah oleh para peserta. Selain bisa bertanya langsung kepada para narasumber, peserta juga berkesempatan memperoleh uang elektronik masing-masing senilai Rp100.000 bagi 10 penanya terpilih.

Salah satu pertanyaan menarik peserta adalah tentang bagaimana cara memberitahu hoaks ke orangtua tanpa menyinggung perasaan. Narasumber menyarankan untuk memberi informasi pembanding yang benar dari sumber valid. Gunakan bahasa santun dalam meluruskan informasi yang salah, serta saring grup percakapan yang perlu diwaspadai untuk diikuti oleh orangtua.

  • Bagikan

Makassar Recover

Makassar Recover