DPRD Makassar

LPSK Dorong Polri Proses Ulang Kasus Anak di Lutim

  • Bagikan
LPSK Dorong Polri Proses Ulang Kasus Anak di Lutim
LPSK Dorong Polri Proses Ulang Kasus Anak di Lutim

MAKASSAR – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendorong Polri agar melakukan proses ulang dalam hal penyidikan kasus anak di lutim yang dilaporkan oleh ibu korban, SR untuk mengetahui fakta sebenarnya termasuk upaya visum ulang.

“Kami sampaikan beberapa hasil telaah catatan kami terhadap proses penyelidikan dan kami harap memang setelah kasus ini dibuka kembali dapat membuat terang untuk membuktikan apakah laporan ibu korban benar atau tidak,” ujar Wakil Ketua LPSK, Edwin Partogi saat berada di Kantor Polda Sulsel, Makassar, Selasa.

Baca Juga : Berantas Mafia Tanah, Danny Segera Aktifkan Pemburu Aset Negara

Ia mengatakan proses harus dilakukan ulang seperti visum et repertum.

“Proses ini harus dilakukan ulang lagi, seperti visum et repertum, visum et repertum psychiatricum, dan ditambah psikologi forensik. Kami juga ingatkan dan usulkan agar disepakatkan kepada pelapor untuk bisa pilih dokter ahli siapa yang dipercaya,” ujarnya.

Selain itu, proses visum mestinya difasilitasi kepolisian dan LPSK juga siap menfasilitasi korban.

Edwin mengungkapkan kasus ini bukan baru ditangani, sebab sejak Januari 2020 sudah masuk memberikan perlindungan, baik kepada ibu korban maupun tiga anak korban setelah dilaporkan ke LPSK.

“Kami melakukan pemenuhan hak prosedural, jadi pendampingan terhadap proses hukum. Kami juga sudah baca advokasi kasus ini tahun 2020. Namun tidak bergerak baik, termasuk memberi terapis psikologi terhadap tiga anak korban,” katanya kepada wartawan.

Soal pelaporan balik SA terhadap mantan istrinya SR atas dugaan pencemaran nama baik di Polda Sulsel, Edwin menjelaskan dalam ketentuan UU Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban, pada Pasal 10 disebutkan saksi, korban, ahli, pelapor, saksi pelaku tidak dapat digugat baik pidana maupun perdata atas kesaksiannya sepanjang itu beriktikat baik.

“Sebaiknya patuhi undang-undang. Polisi, penyidik mesti mengacu pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014, poinnya di pasal 10 itu, pelapor, saksi korban tidak dapat digugat pidana maupun perdata,” katanya.

Kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan seorang ayah terhadap tiga anaknya dihentikan penyelidikannya oleh Polres Luwu Timur, Sulawesi Selatan pada 10 Desember 2019.

Sebelumnya, Mabes Polri telah menurunkan tim ke Luwu Timur untuk mencari fakta-fakta sekaitan dengan kasus ini yang kembali viral dan menyita perhatian publik pada awal Oktober 2021 setelah dihentikan Polres Luwu Timur Desember 2019.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan menyatakan, hasil tim asistens dari tim Luwu Timur, penyidik telah membuat laporan polisi model A tertanggal 12 Oktober 2021 perihal dugaan pencabulan anak di bawah umur.

Tim telah melaksanakan penyelidikan dengan mengambil keterangan dalam bentuk BAP kepada dokter IM, dokter yang memeriksa ketiga anak korban di Rumah Sakit Vale Sorowako. Hasil pemeriksaan itu akan didalami penyidik dari tempus atau waktu 25 Oktober-31 Oktober 2019.

  • Bagikan

Makassar Recover

Makassar Recover