Vaksin Demi Bansos

  • Bagikan
Vaksin Demi Bansos
Alda Latif - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar

Akhir-akhir ini warga di Kabupaten Takalar sangat antusias mengikuti vaksinasi. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan suntikan vaksin gratis dari pemerintah guna bisa memanfaatkan kartu vaksin sebagai salah satu syarat mendapatkan bantuan sosial (Bansos).

Secara umum, manfaat dari vaksinasi diketahui adalah untuk merangsang sistem kekebalan tubuh, mengurangi resiko penularan, mengurangi dampak berat dari virus, dan mencapai herd immunity. Namun, sebagian besar warga Takalar tidak mengutamakan hal tersebut meski sudah mengetahuinya.

Baca Juga : Buku “Dunia Hoegeng, 100 Tahun Keteladanan”

Mereka mengikuti vaksin lantaran adanya informasi bahwa warga yang tidak memiliki kartu vaksin tidak bisa mendapatkan Bansos lagi. Bansos seakan menjadi booster penggerak warga melakukan vaksinasi.

Fenomena yang diperlihatkan warga ini menunjukkan betapa kurangnya kesadaran warga akan pentingnya melakukan vasinasi untuk kesehatan. Bukan demi Bansos.

Vaksin Demi Bansos
Ilustrasi Vaksin Demi Bansos

Pada kenyataannya, banyak warga yang masih takut pada vaksin karena informasi tentang dampak yang diberikan.

Seperti KIPI, atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang biasanya bersifat ringan mulai dari nyeri pada lengan, sakit kepala atau nyeri otot, sakit sendi, menggigil, mual atau muntah, rasa lelah, demam dan juga megalami gejala seperti flu dan gerak selama 1-2 hari.

Karena efek inilah warga di Desa Makammu II, Kelurahan Bulukkunyi takut untuk melakukan vaksin, apalagi terdengar kabar bahwa ada beberapa orang yang meninggal usai melakukan vaksin. Mereka mempercayainya tanpa mengecek terlebih dahulu apakah kabar tersebut benar atau hanya hoax.

Kasus ini tidak hanya terjadi di Kel. Bulukkunyi saja, tetapi terjadi di beberapa Dusun yang ada di Takalar. Sekarang ketakutan mereka terhadap vaksin hilang karena mereka lebih takut tak kebagian Bansos.

Meski begitu, dorongan warga di Takalar ini setidaknya ikut berkontribusi terhadap tingkat vaksinasi di Indonesia, dimana untuk dosis pertama telah mencapai 57,64 persen. Adapun tingkat vaksinasi dosis kedua di Indonesia baru mencapai 35,57 persen.

Baca Juga : Sembilan Elemen Jurnalisme

Oleh : Alda Latif – Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar.

DPRD Makassar
  • Bagikan

Makassar Recover

Makassar Recover