Salah Tangkap, Dosen UMI Babak Belur Dianiaya Polisi

  • Whatsapp

RAKYAT.NEWS, MAKASSAR, Dosen Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, babak belur dianiaya polisi saat berlangsung unjuk rasa tolak pengesahan UU Omnibus Law di Makassar.

Korban yang merupakan dosen Fakultas Hukum UMI, saat mengadukan tindakan yang didapatkan di posko pengaduan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI) Sulsel mengatakan saat kejadian kebetulan dia ada di depan Indomaret.

Bacaan Lainnya

Dia juga mengatakan saat penyisiran dan dihampiri polisi dia sempat mengatakan kalau dia dosen, tetapi polisi tidak mau tahu dan memukul secara membabi buta.

Korban bercerita setelah polisi puas menganiaya lalu dia dinaikan diatas mobil, diatas mobil korban yang mengatakan kalau dia dosen sempat mendapatkan perlindungan dari pimpinan polisi namun setelah pimpinan mereka pergi, dosen muda UMI ini kembali dianiaya secara membabi buta.

“Polisi memukul sambil mengatakan dosen “Sundala”, kata Andri Mamonto (Aan).

Secara kelembagaan, PBHI Sulsel mendesak agar Kapolda Sulsel memberikan atensi dan mengusut tuntas kasus ini. Serta memberikan tindakan tegas baik secara etik maupun proses pidana terhadap anggota yang melakukan tindakan pemukulan secara brutal terhadap korban Aan.

“Tindakan tersebut sangat tidak manusiawi dan melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Melanggar prinsip-prinsip hukum dan hak asasi manusia,” kata Syamsumarlin Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum PBHI Sulsel, Minggu (11/10/20).

Kronologi kejadian penangkapan Aan :

Hari Kamis Tanggal 8 Oktober 2020

– Pukul 19:51 Sodara AM meninggalkan rumah untuk menuju ke tempat makan yang ada di racing.

– Sekitar Pukul 21:20 Sodara AM tiba ditempat makan, Setelah makan sodara Aan bergegas untuk mencari tempat Print yang ada di Depan Kantor Gubernur. Karena banyaknya kerumunan massa TOLAK OMNIBUS LAW sehingga sodara AM menyempatkan diri untuk duduk di bale-bale depan alfamart untuk memantau situasi

– Pukul 21:39 polisi menyisir dari dua arah sehingga sodara AM terjebak dalam kerumunan massa,

Sodara Aan yang pada saat itu ingin menghindari kepulan gas air mata namun di hadang oleh beberapa anggota kepolisian yang langsung mengangkat kerah baju dan memukuli sodara AM dibagian pipi sebelah kanan.

Pada saat yang bersamaan AM berusaha untuk menjelaskan bahwa dirinya bukan termasuk massa aksi TOLAK OMNIBUS LAW dan menjelaskan identitas dirinya bahwa AM adalah seorang dosen dan menunjukkan KTP namun beberapa oknum polisi dengan membabi buta memukuli sodara AM sehingga sodara AM terjatuh dan di injak-injak oleh oknum polisi, setelah itu sodara AM berusaha terbangun kemudian terjatuh lagi karena oknum polisi masih memukuli AM dibagian kepala dan dibagian paha menggunakan tameng.

– Sekitar pukul 22:00 sodara AM Diseret ke mobil taktis kepolisian yang didalam mobil tersebut sodara AM di pukuli lagi berulang kali, dalam pemukulan tersebut sodara AM Kembali menjelaskan bahwa dirinya seorang dosen dan bukan peserta aksi namun direspon oleh oknum polisi dengan melontarkan kata-kata kasar (Dosen Sundala) sembari kembali memukuli kepala sodara AM, dengan kondisi lemas dan memar tepatnya di fly over sodara AM dipindahkan ke mobil taktis lainnya.

– Sekitar pukul 22:30, Saat pengambilan data oleh kepolisian, salah seorang Oknum kepolisian kemudian menggunting rambut sodara AM.

Hari Jum’at tanggal 9 Pukul 23:00 sodara AM dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.

Catatan Luka-luka yang diderita oleh AM :

-memar pada Kelopak Mata bagian kiri

-bengkak pada Kepala Bagian Kanan

-luka pada Hidung

-memar pada Paha sebelah kanan

-Tangan Kiri Kanan Luka-luka

-Punggung sebelah kanan

-Pinggang

-memar pada Jidat

 

 

 

Pos terkait