RAKYAT.NEWS, JAKARTA – Yayasan Karitas Sani Madani (Karisma) menggelar diskusi publik di Sebilangan Cafe, Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Rabu (18/10).

Dalam diskusi, Staf Media Yayasan Kusuma Buana (YKB), Yari membahas peran Warga Peduli AIDS (WPA) yang telah dibentuk, agar lebih peduli AIDS di lingkungan.

Sebagai contoh, katanya, belum lama YKB bersama warga sekitar membentuk WPA atas permintaan suatu perusahaan di wilayah Jawa Tengah.Dimana perusahaan itu sangat peduli akan dampak AIDS bagi para pekerjanya. “Itu jarang ya, 2 desa sekaligus mampu membentuk WPA.karena pekerja rata-rata mengontrak disekitar desa itu,” ujarnya.

Meskipun, Ia sangat mengetahui WPA dengan keterbatasan anggaran. “Gak punya income, mau bergerak sulit. Masyarakat umum yang di bentuk peduli sama warga terkena HIV,” ujar Yari.

Untuk itu, ia masih mengharapkan peran WPA jika pihak YKB membuat kegiatan sosialisasi soal AIDS di wilayah jakarta. “Kita sih mau bergerak sama WPA, tapi gak tau.Tapi gak tau kalau giatnya di terminal-terminal WPA punya peran gak di situ,” pungkas dia.

Disamping itu, Heriyanto dari Yayasan Pelita Ilmu mempertanyakan seberapa kepedulian tentang AIDS di tingkat kelurahan di wilayah Jakarta.Pasalnya, ia pernah mengikuti Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan). “Itu aja, pembahasannya. paling Jumantik, WPA ada tapi gak di bahas,” kata dia.

Padahal, Ia menilai di lapisan paling bawah atau lingkungan, WPA sangat mempunyai peran penting untuk mengetahui lebih dulu, jika warga ada yang terjangkit HIV.

Di lain sisi, Bonike selaku anggota Yayasan Kharisma menyinggung soal program populasi kunci. “Hampir 20 tahun program HIV fokus populasi kunci saja,” ucap dia.

Semestinya, pemerintah memperhatikan terhadap masyarakat umum yang bukan hanya fokus terhadap Odhiv saja. “Akhirnya, sudah tahun 2023, sudah 20 tahun lebih program HIV.Masyarakat masih gak ngerti soal HIV,” kata Bonike.