RAKYAT.NEWS, MESIR – Kondisi warga di Gaza semakin sulit akibat perang yang terus berlanjut. Dampak yang paling dirasakan adalah sulitnya akses pangan, akses air bersih, dan layanan kesehatan.

Situasi sulit itu semakin buruk setelah ditutupnya pintu akses bantuan yang saat ini dikuasai oleh Tentara Israel.

Menanggapi hal tersebut, Badan Pangan Dunia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menekankan pentingnya pembukaan akses pintu masuk bantuan internasional yang aman dan berkelanjutan, khususnya penyeberangan Rafah dan Kerem Shalom.

Hal itu merupakan satu-satunya upaya yang dapat dilakukan untuk menangani krisis pangan dan kebutuhan dasar, juga memastikan mereka yang rentan mendapatkan makanan bergizi dan terdiversifikasi.

Walaupun situasi kian sulit, PMI didukung Lembaga Kemanusiaan lokal di Gaza, berkomitmen untuk tetap menyalurkan bantuan dan memastikan distribusi bantuan pangan terus disalurkan ke pengungsian, termasuk membuka dapur umum.

“Penutupan jalur masuk bantuan di pintu Rafah saat ini menjadi kendala utama masuknya bantuan bahan pangan, termasuk bantuan dari PMI yang saat ini masih menunggu jadwal masuk. Warga pengungsi perlu makanan dan minuman untuk menyambung hidup. Ini yang tidak bisa ditunda. Karena itulah PMI saat ini terus melanjutkan layanan dapur Umum di beberapa titik kamp penampungan darurat,” kata Sekretaris Jenderal Palang Merah Indonesia, Abdurrahman Muhammad Fachir dalam keterangannya, Senin (10/6/2024).

Layanan dapur umum tersebut hadir setelah mendapat dukungan donasi dari masyarakat Indonesia.

“Palang Merah Indonesia (PMI) menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada para donor sehingga layanan ini dapat terlaksana, ” Kata Fachir.

Namun, sejumlah kendala dihadapi karena ketersediaan bahan dasar pangan yang semakin sulit di Gaza. Termasuk bahan bakar.

Untuk bertahan hidup, pengungsi memerlukan makan dan minum. Namun, krisis pangan masih terus berlanjut hingga saat ini.