Namun, kebijakan berbeda ditempuh oleh Jepang. Mahendra menyampaikan bahwa Bank of Japan justru menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dasawarsa terakhir, yang didorong oleh tekanan inflasi yang relatif persisten di negara tersebut.

“Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral itu turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global,” tegas Mahendra.

“Pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan FFR, meskipun terdapat kekhawatiran terhadap potensi bubble di saham teknologi,” lanjutnya.

Ia menambahkan, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar sovereign bond secara global, seiring berakhirnya aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar tersebut.

Memasuki awal 2026, Mahendra menyebut pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, khususnya di Venezuela, serta potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global.

“Perekonomian domestik pada Desember 2025 mencatatkan inflasi inti yang meningkat, sektor manufaktur terpantau masih ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang mencatatkan surplus,” pungkasnya.

Oleh karena itu, Mahendra berharap ke depan stabilitas sistem keuangan nasional tetap dapat terjaga di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Ia juga menegakan jika OJK akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Bank Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan sektor jasa keuangan tetap resilien, mampu mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, serta memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat dan pelaku usaha. (*)

YouTube player