Mustaufiq : Isra’ Mi’raj pelecut Etos Kerja di zaman Kekinian
Peringatan Isra’ Mi’raj bukan sekadar mengenang perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menuju Sidratul Muntaha. Di balik peristiwa agung ini, terdapat nilai-nilai fundamental yang dapat ditransformasikan menjadi etos kerja yang unggul di era modern. Salah satu diantaranya ialah Kedisiplinan dan Manajemen Waktu. Perintah Shalat sebagai Fondasi dimensi keimanan yang merupakan inti dari ole-ole Isra’ Mi’raj adalah memerintahkan ummat muslim untuk taat melaksanakan shalat lima waktu.
Dalam dunia kerja, shalat mengajarkan kedisiplinan ekstrem dan manajemen waktu. Pekerja yang menghargai waktu shalat cenderung lebih menghargai tenggat waktu (deadline) dan memiliki ritme kerja yang teratur. Kedisiplinan ini membangun profesionalisme yang kokoh bagi para pelaku dunia kerja dan usahawan.
Di samping itu isra’ mi’raj juga menegaskan Integritas dan Kejujuran (Keberanian Menyampaikan Kebenaran). Hal tersebut di rasakan oleh Nabi Muhammad SAW Sepulangnya dari Mi’raj, dimana Nabi Muhammad SAW menyampaikan kebenaran bahwa yang Haq adalah Haq dan yang bathil tetaplah Bhatil.
Meskipun tidak sedikit yang meragukannya namun Beliau tetap menunjukkan integritas moral yang tinggi Yang didasari oleh kejujuran. nilai isra’ mi’raj juga mengajarkan kita pola Membangun kepercayaan (trust) dengan rekan kerja yang memerlukan keberanian untuk jujur dalam melaporkan progres kerja, mengakui kesalahan, dan tetap berpegang pada etika serta moral sehingga akan menghadirkan Ketangguhan dan Visi yang Luas (Resilience).
Peristiwa Isra’ Mi’raj di masa Rasulullah kita ketahui bahwa terjadi pada Amul Huzni (Tahun Kesedihan), saat Nabi kehilangan orang-orang tercinta. sehingga Mi’raj inilah cara Allah memberikan perspektif dan mindset baru yang lebih luas kepada Nabi. Dan jika di implementasikan dengan kondisi saat ini, bahwa Seorang profesional harus memiliki ketangguhan dalam menghadapi tekanan, hambatan dan tantangan dalam dunia kerja dimana pun itu.
Isra’ Mi’raj mengajarkan kita untuk “naik” ke level perspektif yang lebih tinggi (visi jauh ke depan) ketika menghadapi hambatan di lapangan, sehingga kita tidak mudah menyerah pada kegagalan jangka pendek namun harus memiliki visi dan misi jangka panjang yang bermuara pada kemampuan personal dan kapabilitas.
Membangun etos kerja melalui semangat Isra’ Mi’raj berarti menjadikan pekerjaan sebagai bentuk Ibadah Profesional, pengabdian dan dedikasi melayani. Dengan mengintegrasikan disiplin shalat, integritas Nabi, dan ketangguhan mental, seorang Muslim dapat menjadi sumber daya manusia yang kompetitif dan berintegritas tinggi dalam meraih masa depan yang lebih baik di tengah ketatnya persaingan dunia kerja yang makin kompleks saat ini.
Selamat memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Dengan semangat isra miraj mari membangun jati diri ummat yang kaffah pada tuntunan ajaran agama islam. (*)


Tinggalkan Balasan Batalkan balasan