RAKYAT.NEWS, MAKASSAR – Menanggapi keluhan publik di Media Sosial terkait penyebaran gambar rekayasa Artificial Intelligence (AI) kini memicu keresahan publik menyusul insiden jatuhnya pesawat ATR di kawasan Gunung Bulu Saraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Foto-foto yang memperlihatkan puing pesawat dengan efek dramatis serta kondisi lokasi yang tampak nyata namun palsu beredar masif di grup-grup WhatsApp dan media sosial. Visual buatan AI itu muncul hanya beberapa jam setelah laporan pesawat hilang kontak, mendahului rilis resmi dari pihak berwenang di lapangan.

Peneliti etik digital Doktor alumni Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr. Zulkarnain Hamson, memberikan tanggapannya terhadap fenomena itu. “Saya menilai penyebaran visual palsu di tengah tragedi merupakan bentuk degradasi moral di ruang digital,” ujarnya. Penggunaan teknologi untuk menciptakan konten sensasional pada peristiwa bencana seperti di Bulu Saraung sangat tidak etis karena mengabaikan sisi kemanusiaan dan empati terhadap keluarga korban, tambahnya.

Dosen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar itu menjelaskan bahwa topografi Gunung Bulu Saraung yang ekstrem sering kali disalahgunakan oleh kreator konten AI untuk menciptakan visual yang melebih-lebihkan fakta.

“Ada ketentuan dalam Universal Declaration of Human Rights (UDHR), Pasal 19 Kebebasan berekspresi harus disertai tanggung jawab moral dan sosial,” paparnya. Dengan menekankan bahwa masyarakat perlu waspada karena gambar AI kini memiliki detail yang sangat halus sehingga sulit dibedakan dengan foto asli.

“Masyarakat harus paham bahwa dalam situasi kritis, informasi visual yang tidak jelas sumbernya kemungkinan besar adalah manipulasi yang bertujuan mencari keuntungan trafik semata,” ungkap mantan Wakil Rektor IV UIT, itu sembari meminta agar kreator konten menahan diri.

“Merujuk pada International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), melarang penyebaran informasi yang dapat mengancam ketertiban umum, keselamatan publik, dan reputasi individu,” ujarnya, sembari menambahkan bahwa akun-akun Media sosial harus punya tanggungjawab moral pada publik.

Lebih lanjut, ia mendorong otoritas keamanan dan Kominfo untuk memberikan imbauan pada akun-akun yang sengaja memproduksi hoaks visual terkait kecelakaan pesawat itu. Menurutnya, simpang siur informasi di Sulawesi Selatan dapat mengganggu dan menciptakan spekulasi opini publik, biarkan fokus tim SAR dalam melakukan evakuasi dan koordinasi di wilayah peristiwa tanbahnya.

Dr. Zulkarnain menyarankan agar platform media sosial lebih memperketat filter terhadap konten sensitif yang terindikasi hasil rekayasa kecerdasan buatan demi menjaga kondusivitas informasi.

Sebagai langkah antisipasi, Dr. Zul mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan verifikasi berlapis dan hanya merujuk pada informasi dari Basarnas atau pihak maskapai terkait. Ia mengingatkan bahwa kecanggihan AI seharusnya digunakan untuk kemajuan ilmu pengetahuan, bukan sebagai alat penyebar kepalsuan di atas penderitaan orang lain.

“Kejadian di Bulu Saraung ini harus menjadi momentum bagi kita untuk meningkatkan literasi digital dan mengedepankan etika dalam berkomunikasi di dunia maya,” tambah Dr. Zul, yang kini lebih mendalami etik digital dikaitkan dengan kearifan lokal yang bersifat manusiawi.

 

ZH

YouTube player