Nenek 83 Tahun Tampil Memukau hingga Raih Juara di Pasanggiri Angklung AHM
Selama kompetisi berlangsung, para peserta menampilkan kreativitas dengan membawakan beragam genre musik, mulai dari musik daerah, lagu anak-anak, hingga lagu original soundtrack film, dengan aransemen angklung yang inovatif.
“Ini membuktikan angklung mampu berpadu dengan berbagai jenis musik. Teknik permainan musik, kreativitas aransemen, hingga estetika dalam penampilan menjadi poin utama penilaian,” ujar General Manager Corporate Communication AHM, Ahmad Muhibbuddin.
Muhibbuddin mengapresiasi antusiasme seluruh peserta dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya angklung yang telah dikukuhkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia lebih dari dua dekade lalu.
Menurutnya, kreativitas peserta dalam memadukan musik angklung dengan pengaruh media sosial dapat menjadi sarana komunikasi lintas generasi yang berdampak luas.
“Angklung mampu memukau dunia bukan sekadar alat musik yang memiliki nilai sejarah bagi bangsa, namun juga mengajarkan konsistensi, daya juang, dan harmonisasi kerja sama tim yang kami yakini dapat menjadi dasar pembentukan generasi unggul. PASH menjadi wadah bagi pecinta angklung di Indonesia untuk mengeksplorasi kemampuan bermusik tradisional dengan cara yang kekinian dan menyenangkan,” kata Muhibbuddin.
Selain sebagai warisan budaya dunia, angklung juga merepresentasikan nilai keberlanjutan karena terbuat dari bambu yang ramah lingkungan. Melalui ajang ini, AHM berharap angklung terus hidup, berkembang, dan tetap relevan di tangan generasi muda sebagai simbol harmoni, kolaborasi, dan kebanggaan budaya Indonesia.
Digitalisasi Alat Musik Tradisional
Tak hanya menjadi ajang kompetisi, PASH juga menghadirkan sesi pembekalan bagi peserta melalui program Astra Honda Berbagi Ilmu (AHBI). Pembekalan ini disampaikan langsung oleh para pegiat seni dan praktisi kreatif.
Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan materi komprehensif mengenai seni dan filosofi angklung, teknik olah vokal, digitalisasi alat musik tradisional, hingga strategi pembuatan konten media sosial agar kesenian tradisional semakin diminati masyarakat.








Tinggalkan Balasan