Jusuf Kalla: Masjid Harus Jadi Pusat Sosial, Pendidikan, dan Ekonomi Umat
“Sekitar 80 persen aktivitas di masjid adalah mendengarkan, baik khutbah, ceramah, maupun pengumuman. Kalau suaranya tidak jelas, maka fungsi masjid tidak berjalan,” tegasnya.
Ia mengkritisi penggunaan material seperti kaca, marmer, dan keramik secara berlebihan karena dapat memantulkan suara dan menurunkan kualitas akustik. Sebaliknya, material seperti kayu, karpet, dan panel akustik dinilai lebih membantu meredam gema suara.
Jusuf Kalla juga menekankan pentingnya melibatkan ahli akustik dan sound engineer sejak tahap perencanaan pembangunan masjid. Menurutnya, banyak persoalan tata suara masjid sebenarnya dapat diperbaiki hanya dengan pengaturan arah dan jarak pengeras suara yang tepat.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya desain alur jamaah yang inklusif dan nyaman, mulai dari area parkir, tempat wudu, tempat penyimpanan alas kaki, hingga ruang utama salat.
Menurutnya, masjid yang inklusif adalah masjid yang terbuka untuk semua umat Islam tanpa membedakan latar belakang organisasi, suku, maupun praktik ibadah.
“Masjid tidak mengenal sekat. Tidak ada masjid NU, Muhammadiyah, atau kelompok tertentu. Siapa pun boleh singgah dan beribadah,” ujarnya.
Melalui seminar dan FGD ini, Jusuf Kalla berharap para arsitek dan pemangku kebijakan dapat merancang masjid yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga fungsional, nyaman, dan benar-benar memakmurkan masyarakat sekitarnya.
“Masjid harus dipahami dari fungsinya, bukan hanya dari luarnya. Dengan begitu, kita bisa membangun masjid yang baik, sesuai kebutuhan ibadah dan kehidupan umat,” pungkasnya.
Sementara itu,acara seminar tersebut merupakan hasil kerja sama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Kementerian Pekerjaan Umum, dan Dewan Masjid Indonesia (DMI), Yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pekerjaan Umum Ir Diana Kusumastuti,MT , pengurus IAI, Wakil Ketua Umum DMI Rudiantara serta Sekjen DMI Rahmat Hidayat. (*)








Tinggalkan Balasan