RAKYAT.NEWS, JAKARTA – Ketua DPC PDI Perjuangan Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengungkapkan adanya temuan relawan Ganjar-Mahfud ditangkap dan dipukuli aparat karena membentangkan spanduk Ganjar-Mahfud ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) hendak berkunjung ke Gunungkidul.

Dan pada saat itu, kata Endah, tak ada yang berani menolong.

“Katakanlah ada simpatisan yang dianggap bersalah atau membahayakan objek, tetapi tidak untuk dipukuli, dihakimi, karena ini negara Pancasila, ini adalah negara hukum. Silakan ditangkap, tetapi tidak dianiaya,” kata Endah saat menjadi saksi Ganjar-Mahfud dalam sidang gugatan hasil Pilpres 2024 di MK, Jakarta, Selasa (2/4/2024), mengutip CNNIndonesia.com.

Kemudian, Endah menelepon Imanuel Apriyanto yang merupakan salah satu kader PDIP setempat untuk bernegosiasi dengan aparat demi menolong relawan Ganjar yang dipukuli tersebut. Namun, hal itu tidak membuahkan hasil.

“Tetapi negosiasi ini gagal dilakukan Imanuel, bahkan Imanuel telepon bahwa dia diancam akan ditembak. Di situlah emosi saya bangkit yang mulia, saya langsung meluncur kembali Kabupaten Gunungkidul dan saya langsung datang ke lokasi sekitar pukul 13.03 dan anak itu masih ditahan,” kata Endah.

Endah mengatakan aparat itu mengamankan relawan ganjar yang membentangkan spanduk tersebut. Ia lantas mempertanyakan kepada aparat tersebut mengapa relawan sampai dipukuli sedemikian rupa.

“Saya tanya ‘kenapa anak ini dipukuli?’ beliau menjawab, videonya ada nanti bisa kita saksikan yang mulia. ‘Karena anak itu dianggap membahayakan objek’, yang mulia. Saya sampaikan “seandainya anak ini dianggap membahayakan objek, apakah harus dipukuli? Apakah harus dianiaya dan dipermalukan?” kata Endah.

Endah juga menceritakan satgas PDIP Gunungkidul mendapatkan intimidasi. Laki-laki maupun perempuan digeledah oleh aparat lantaran mempertahankan berkibarnya bendera PDIP ketika Jokowi kunjungan kerja ke Gunungkidul pada akhir Januari 2024.