Gempa Myanmar : Pakar Sebut Gempa Terbesar Dalam 75 Tahun Terakhir
RAKYAT NEWS, JAKARTA – Seorang ahli gempa dari UCL, Bill McGuire, menyatakan bahwa gempa yang terjadi di Myanmar merupakan yang terbesar dalam 75 tahun terakhir.
Kejadian gempa di Myanmar semakin parah karena kedalamannya dangkal, kurang dari 70 kilometer dari permukaan Bumi. Menurut Roger Musson, seorang peneliti dari Survei Geologi Inggris, kondisi ini menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
“Ini sangat merusak karena terjadi pada kedalaman yang dangkal, sehingga gelombang kejut tidak hilang saat bergerak dari pusat gempa ke permukaan. Bangunan-bangunan menerima kekuatan penuh dari guncangan,” kata Musson seperti diberitakan Reuters.
“Penting untuk tidak berfokus pada episentrum karena gelombang seismik tidak menyebar dari episentrum – melainkan menyebar dari seluruh garis patahan,” imbuh dia.
Seorang profesor dan ahli gempa bumi dari University College London, Joanna Faure Walker, menjelaskan penyebab gempa bumi yang dahsyat dan merusak di Myanmar.
Myanmar berada di perbatasan dua lempeng tektonik dan termasuk negara dengan aktivitas seismik yang sangat tinggi di dunia. Meskipun demikian, gempa bumi besar dan merusak jarang terjadi di wilayah Sagaing.
“Batas lempeng antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia membentang kira-kira dari utara ke selatan, membelah bagian tengah negara ini,” kata Walker.
Walker menjelaskan bahwa perbatasan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia membentang dari utara ke selatan, membelah bagian tengah Myanmar. Lempeng-lempeng tersebut saling bergerak horizontal dengan kecepatan yang berbeda.
Wilayah Sagaing telah mengalami beberapa gempa dalam beberapa tahun terakhir. Gempa besar terakhir terjadi pada tahun 2012 dengan kekuatan 6,8 magnitudo dan menewaskan setidaknya 26 orang serta melukai puluhan lainnya.
Musson juga merespons perkiraan US Geological Survey (USGS) mengenai jumlah korban tewas yang bisa mencapai 10 ribu orang akibat gempa Myanmar. Selain itu, dampak gempa ini diperkirakan dapat mengguncang 7 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Myanmar.
Perkiraan tersebut didasarkan pada data gempa bumi sebelumnya serta ukuran, lokasi, dan kesiapan Myanmar dalam menghadapi gempa.
Kejadian seismik besar yang jarang terjadi di Sagaing menunjukkan bahwa infrastruktur di wilayah tersebut mungkin tidak siap menghadapi guncangan besar. Akibatnya, kerusakan bisa lebih parah.
Musson menyebutkan bahwa gempa besar terakhir di wilayah tersebut terjadi pada tahun 1956, di mana rumah-rumah saat ini kemungkinan tidak mampu menahan guncangan sekuat yang terjadi pada Jumat lalu.
“Sebagian besar gempa di Myanmar terjadi di wilayah barat, sedangkan gempa ini terjadi di wilayah tengah negara,” katanya.

Tinggalkan Balasan