Dr. Sudirman juga mengungkapkan bahwa pasca menjalani tindakan operasi pada akhir tahun 2023, kondisi pasien MRG hingga kini masih memerlukan perawatan intensif di RSUD CAM.

Selama hampir dua tahun terakhir, pihak rumah sakit disebut tetap memberikan layanan medis sesuai kondisi pasien.

“Sekarang dia (pasien) luka di punggung kan, perawatan di punggungnya. Jadi kita rawat di sini,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa setiap tindakan operasi medis memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi. Risiko tersebut, kata dia, merupakan bagian dari prosedur medis yang bisa terjadi pada setiap pasien.

“Risk operasi itu tidak bisa kita duga, bisa saja terjadi bahkan sampai kematian pun bisa risk operasi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dr. Sudirman menyebutkan bahwa manajemen RSUD CAM Kota Bekasi telah menjalin kesepakatan dengan keluarga pasien terkait penanganan lanjutan terhadap MRG.

“Kesepakatannya ya kita tangani, permintaan keluarga kondisi MRG sampai saat ini,” tuturnya.

Sementara itu, orang tua pasien MRG, Kokom (nama samaran), sebelumnya menyampaikan kegelisahannya terkait masa depan sang anak yang diduga mengalami kelumpuhan pasca operasi tulang belakang di RSUD CAM.

Ia juga mengaku sebagai orang tua tunggal yang membesarkan MRG seorang diri, sehingga kondisi tersebut menjadi beban pikiran yang berat baginya.

Kokom menuturkan, yang diharapkannya hanyalah kepastian penanganan medis terbaik bagi anaknya. Meski demikian, Kokom mengakui bahwa pihak keluarga sempat menandatangani kesepakatan dengan pihak RSUD CAM Kota Bekasi terkait penanganan medis terhadap MRG.

“Ia dikasih surat perjanjian, dikasih duit,” ungkap Kokom kepada awak media di kediamannya.

Hingga saat ini, kasus dugaan malpraktik tersebut masih menjadi perhatian keluarga pasien. Sementara itu, pihak RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi menegaskan tetap memberikan perawatan medis kepada pasien MRG sesuai prosedur yang berlaku. (Dirham)

YouTube player