Adaptasi dan Kelangsungan Budaya Bugis-Makassar Dalam Masyarakat Digital
Di tengah maraknya perundungan siber (cyber-bullying) dan hoaks, nilai-nilai ini berfungsi sebagai pengingat bahwa di balik layar gawai terdapat manusia yang harus dihormati. Hal ini membuktikan bahwa etika tradisional sangat relevan untuk mengatasi krisis moral di dunia maya.
Pendekatan ini juga disebut sebagai langkah “dekolonial”, karena berupaya membebaskan pikiran masyarakat dari ketergantungan pada standar etika Barat yang sering kali tidak cocok dengan budaya timur. Selama ini, aturan main di dunia digital banyak didikte oleh platform global, dengan penuh optimisme riset itu saya yakini mendorong kedaulatan nilai lokal.
Dengan mengedepankan prinsip Lempu’ (kejujuran), para pengguna internet dan kreator konten diajak untuk membangun integritas diri yang asli, bukan sekadar mengikuti tren global yang kosong akan makna dan tanggung jawab moral. Ssesuatu yang sangat sejalan dengan teori etika komunikasi.
Sebagai kesimpulan, temuan itu menegaskan bahwa pada rentang tahun 2020-2025, identitas budaya telah bertransformasi menjadi jembatan dinamis yang menghubungkan tradisi dengan masa depan. Riset saya juga menunjukkan bahwa dengan memegang teguh kearifan lokal, masyarakat Bugis-Makassar tidak akan tergilas oleh kemajuan teknologi.
Sebaliknya, kita justru bisa mewarnai ruang digital dengan identitas yang kuat dan beradab. Inilah wajah baru literasi digital: sebuah ekosistem yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijaksana secara budaya dan emosional (z).








1 Komentar
Identitas. Kata kunci yg hrs dipegang. Karena Anda adalh diri Anda sendiri.