RAKYAT.NEWS, MAKASSAR – Hasil rukyatul hilal di Kota Makassar menunjukkan bulan sabit penanda awal Ramadan 1447 Hijriah belum memenuhi kriteria visibilitas.

Berdasarkan data hisab dan pemantauan lapangan, posisi hilal masih berada di bawah ufuk, sehingga besar kemungkinan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Pemantauan hilal dilaksanakan di Lantai 18 Menara Iqra, Observatorium Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Selasa (17/2/2026).

Kota Makassar tercatat sebagai salah satu dari 96 titik pemantauan hilal yang digelar serentak di seluruh Indonesia.

Sejak sore hari, kondisi cuaca di Makassar terpantau mendung dan sempat diguyur hujan ringan.

Tiga unit teropong diarahkan ke ufuk barat, masing-masing dua milik BMKG Sulawesi Selatan dan satu milik Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII).

Selain itu, tim pemantau juga terlihat mengawasi layar laptop yang terhubung langsung dengan perangkat optik untuk memastikan posisi bulan secara visual dan astronomis.

Koordinator Bidang Observasi BMKG Wilayah IV Makassar, Jamroni, menegaskan bahwa hilal tidak mungkin teramati dari wilayah Makassar karena posisinya masih bernilai negatif.

“Berdasarkan pemantauan secara hisab, posisi hilal bernilai negatif. Bulan lebih dulu terbenam dibanding matahari, sehingga tidak mungkin teramati,” ujarnya di lokasi pengamatan.

Data pengamatan menunjukkan matahari terbenam pada pukul 18.23.59 Wita, sedangkan bulan telah lebih dahulu tenggelam pada pukul 18.18.46 Wita.

Tinggi bulan tercatat -1° 26,34’ dengan elongasi 1,92 derajat serta umur bulan minus 21 jam lebih. Kondisi tersebut menandakan kriteria imkan rukyat belum terpenuhi.

Ketua Badan Pusat Rukyat (BPR) Sulsel, Abbas Fadil juga menyampaikan hasil serupa. Ia menyebut ketinggian hilal di Makassar berada di kisaran minus satu derajat.

“Berdasarkan pemantauan kami, hasil rukyat menunjukkan mines 1 derajat, sehingga kemungkinan 1 Ramadhan jatuh pada tanggal 19 Februari 2026,” ujarnya.

YouTube player