Oleh : Jay Dasrum

Di ambang Syawal, sang waktu tampak sedang kebingungan. Di satu sudut, hilal malu-malu mengintip dari balik tirai langit, membisikkan kabar lebaran yang lebih awal. Di sudut lain, perhitungan angka masih betah duduk di atas meja, bersikeras bahwa esok hari masih milik Ramadan.

​Namun, lihatlah pintu-pintu rumah itu. Mereka tidak peduli dengan perdebatan di langit atau kertas-kertas hisab. Pintu-pintu itu sudah mulai memoles diri, bersiap membuka lengan lebar-lebar untuk memeluk siapa pun yang datang.

​Ketupat dan buras pun tak mau kalah. Mereka sudah berdandan cantik di dalam panci, siap menari di atas piring tanpa bertanya hari apa sekarang. Bagi mereka, tugas mulia mereka hanyalah satu, menjadi jembatan rasa yang mempertemukan tawa di meja makan.

​Silaturrahmi akhirnya berjalan anggun melewati kerumunan perbedaan itu. Ia berbisik lirih kepada kita, “Biarkan penanggalan menempuh jalannya masing-masing, tapi jangan biarkan hati dan langkah kaki kita berhenti menuju pintu maaf.”
​Sebab pada akhirnya, lebaran bukan tentang siapa yang lebih cepat mencium aroma kemenangan, melainkan tentang bagaimana hati kita saling mengetuk, meminta izin untuk masuk dan membersihkan debu-debu khilaf yang sempat singgah.

​Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
​”Di atas segala perbedaan hari, ketulusan untuk saling memeluk dalam ampunan adalah pemenang yang sesungguhnya.”

​Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Semoga keberkahan senantiasa menyertai langkah dan pengabdian kita semua. (*)

YouTube player