Dr. Sudirman juga menjelaskan bahwa setiap tindakan operasi medis memiliki risiko yang tidak selalu dapat diprediksi. Risiko tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari prosedur medis yang dapat terjadi pada setiap pasien.

“Risk operasi itu tidak bisa kita duga, bisa saja terjadi bahkan sampai kematianpun bisa risk operasi,” ungkapnya.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa manajemen RSUD CAM Kota Bekasi telah menjalin kesepakatan dengan keluarga pasien terkait penanganan lanjutan terhadap MRG.

“Kesepakatannya ya kita tangani, permintaan keluarga kondisi MRG sampai saat ini,” tuturnya.

Sementara itu, orang tua pasien MRG, Kokom (nama samaran), sebelumnya mengungkapkan kegelisahannya terkait masa depan sang anak yang diduga mengalami kelumpuhan pasca operasi tulang belakang di RSUD CAM. Kokom mengaku sebagai orang tua tunggal yang membesarkan MRG seorang diri.

Ia menuturkan kondisi tersebut membuatnya terus memikirkan keberlangsungan hidup anaknya ke depan. Kokom menyatakan hanya menginginkan kepastian penanganan medis terbaik bagi MRG.

Meski demikian, Kokom mengakui pihak keluarga sempat menandatangani kesepakatan dengan pihak RSUD CAM Kota Bekasi terkait penanganan medis terhadap anaknya.

“Ia dikasih surat perjanjian, dikasih duit,” ungkap Kokom kepada awak media di kediamannya.

Hingga kini, kasus dugaan malpraktik pasien MRG masih menjadi perhatian keluarga dan pendamping hukum, sementara pihak RSUD CAM Kota Bekasi menyatakan tetap memberikan perawatan medis sesuai prosedur yang berlaku. (Dirham)

YouTube player