RAKYAT.NEWS, MAKASSAR – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kebijakan pertanian memegang peran strategis dalam menentukan arah dan masa depan sektor pertanian nasional.

Penegasan tersebut disampaikan dalam Kuliah Umum bertema “Kebijakan Pertanian Berkelanjutan” yang digelar di Aula Fakultas Pertanian, Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, Jumat (27/2).

Kuliah umum ini dihadiri ratusan mahasiswa Fakultas Pertanian Unhas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan pemahaman generasi muda terhadap arah pembangunan pertanian nasional yang berbasis kebijakan strategis dan prinsip keberlanjutan.

Dalam paparannya, Menteri Amran menekankan bahwa kebijakan tidak boleh dipandang semata sebagai regulasi administratif, melainkan sebagai instrumen utama yang mampu mendorong perubahan signifikan dalam waktu relatif singkat.

“Di mana pun, kebijakan itu sangat strategis. Kebijakan yang baik dapat meningkatkan produktivitas, terutama melalui regulasi yang tepat. Sebaliknya, kebijakan yang keliru bisa menyulitkan hingga ratusan juta rakyat Indonesia,” tegasnya di hadapan mahasiswa.

Ia menjelaskan, kebijakan yang dirancang secara tepat tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan petani. Menurutnya, transformasi pertanian nasional yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir tidak terlepas dari kumpulan kebijakan yang disusun secara sistematis, terukur, dan berorientasi pada efisiensi.

“Yang mengubah wajah pertanian Indonesia dalam waktu singkat adalah kumpulan kebijakan. Kebijakan itu bisa menghemat sumber daya, meningkatkan produktivitas, dan menyejahterakan petani kita,” tambahnya.

Menteri Amran juga menyoroti pentingnya keberlanjutan dalam setiap kebijakan pertanian, termasuk dalam pengelolaan lahan, penggunaan teknologi, serta penguatan kelembagaan petani.

Ia mendorong mahasiswa pertanian untuk tidak hanya menguasai aspek teknis budidaya, tetapi juga memahami proses perumusan kebijakan yang menjadi fondasi pembangunan sektor pertanian.

Menurutnya, generasi muda pertanian harus mampu membaca tantangan global seperti perubahan iklim, fluktuasi harga komoditas, hingga dinamika perdagangan internasional, yang seluruhnya membutuhkan respons kebijakan yang adaptif dan berpihak pada kepentingan nasional.

Kuliah umum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi strategis bagi mahasiswa Universitas Hasanuddin agar memiliki perspektif komprehensif tentang pembangunan pertanian. Selain memahami teknologi dan inovasi, mahasiswa diharapkan mampu melihat kebijakan sebagai elemen kunci dalam menciptakan sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. Sejumlah mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih jauh pandangan Menteri Pertanian terkait tantangan sektor pertanian, dukungan pemerintah terhadap petani muda, serta arah kebijakan pertanian Indonesia ke depan. (*)