Tambang Galian C di Paceko Diduga Tak Miliki Izin, Begini Tanggapan Pengembang

  • Bagikan
IMG 20211028 WA0035

JENEPONTO – Lokasi tambang galian C di Kampung Paceko, Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto, diduga tak mengantongi izin melakukan aktivitas.

Meskipun demikian pengusaha tambang milik PT. Nurfaidah Munira Turatea tersebut tetap memerintahkan tetap beroperasi.

Sorotan pun datang dari berbagai pihak baik dari warga setempat maupun pengguna kendaraan yang melintas di lokasi area tambang karena berada dekat jalan raya.

Tidak hanya itu, di dalam lokasi tambang tersebut terdapat monumen patung Makkasau yang merupakan kebanggaan masyarakat Butta Turatea. Kondisinya kini sangat memperihatinkan karena hampir ambruk akibat galian eskavator yang sudah mendekati titik lokasi monumen patung tersebut.

H. Muchdar yang merupakan pemikik dari PT. Nurfaidah Munira Turatea saat di konfirmasi membenarkan bahwa pihaknya yang melakukan aktivitas tambang galian C di Kampung Paceko.

“Iya betul, kami yang melakukan aktivitas penggalian tambang galian C di Kampung Paceko. Namun kami sudah memiliki izin lokasi yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang,” kata mantan Anggota DPRD Kabupaten Bulukumba tersebut, saat di temui dikediamannya, Sabtu (30/10/2021).

Muchdar menyebutkan izin lokasi yang di maksud tersebut di keluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Nomor : T-560/MB.03/DJB.P/2021, perihal persetujuan pemberian wilayah izin usaha pertambangan batuan komoditas tanah urug kepada PT. Nurfaidah Munira Turatea.

Dikatakannya, bahwa luas area lokasi tambang di Kampung Paceko tersebut 29,4 hektare, yang merupakan golongan batuan, komoditas tanah urug, ungkap Muchdar.

IMG 20211028 WA0023
Patung Makkasau yang berdiri kokoh di atas perbukitan Paceko

Meskipun demikian, Muchdar mengakui bahwa berdasarkan informasi dari Kementerian ESDM RI, untuk data permohonan izin usaha atau operasional pertambangan mineral non logam dan batu bara baru selesai evaluasi teknik dan saat ini dalam proses pengesahan, kata Muchdar sambil menunjukkan chat via WhatsApp dengan salah seorang staf dari Kementerian ESDM RI.

Muchdar menambahkan bahwa menyangkut tidak adanya tanda-tanda yang menunjukkan adanya aktivitas galian di lokasi tersebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengawasnya untuk dibuatkan tanda penunjuk agar kendaraan yang melintas agar lebih berhati-hati.

“Kami sudah perintahkan anggota saya untuk memasang papan petunjuk hati-hati, agar pengguna kendaraan yang melintas di area lokasi tersebut lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatannya. Apalagi lokasi tambang itu berada pada tikungan tajam,” jelasnya.

Sementara untuk menjaga keutuhan monumen patung Makkasau, kata Muchdar pihaknya tetap bertanggung jawab akan kondisi patung tersebut. Bahkan kata Ia, di area lokasi patung Itu pihaknya akan membuatkan tangga untuk menuju ke atas patung dan membuatkan taman sebagai tempat alternatif wisata budaya di Jeneponto.

Selain itu, kata Muchdar di area tersebut di rencanakan akan di bangun mesjid serta perumahan yang menunjukkan ikon selamat datang di Butta Turatea, pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Tata Lingkungan pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jeneponto, Hasdin Nasri mengatakan, bahwa terkait adanya tambang galian yang sudah beberapa hari ini beroperasi di Paceko. Dinas Lingkungan hidup sudah memberikan rekomendasi.

Rekomendasi itu bukan bersifat memperbolehkan pihak pengusaha tambang melakukan aktivitas. Akan tetapi, rekomendasi yang dikeluarkan oleh Dinas Lingkungan hidup hanya berupa Usaha Pengelolaan Lingkungan saja (UKL), tutur Hasdin.

IMG 20211028 WA0032
Lokasi tambang galian C di Kampung Paceko

“Biar ada rekomendasinya dari kami, pihak pengelola belum bisa melakukan aktivitas apa-apa sebelum ada izinnya, ” ucap Asdin saat ditemui di kantornya beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut Hasdin mengungkapkan bahwa terkait tambang galian yang ada di Paceko, sebelumnya sudah ada komplain dari Masyarakat, namun hal itu pihaknya sudah sikapi.

Salah satu yang dipersoalkan oleh masyarakat di lokasi penambangan kata dia adalah patung Makkasau.

Menurut dia di sana itu telah terjadi kesalahan teknis yang dilakukan oleh pihak pengembang. Harusnya 10 meter dari patung Makkasau dengan galian.

“Ia memang ada kesalahan teknis karena dia menggali dekat dengan patung Makkasau yang harusnya 10 meter dari patung Makkasau, ” bebernya.

Namun Asdin bilang pihak pengembang PT. Nurfaidah Munira Turatea berjanji akan memperbaikinya dengan membangunkan taman di seputaran patung Makkasau.

“Kami juga akan membuat kesepakatan dengan pihak pengelola tambang mengenai jam operasinya. Bahwa tidak boleh melakukan aktivitas dipagi hari, kecuali pada malam hari,” tambahnya. (*)

 

DPRD Makassar
  • Bagikan

Makassar Recover

Makassar Recover